Entrepreneurship atau kewirausahaan adalah sebuah tema yang cukup
menarik untuk dibicarakan dan coba ditekuni oleh beberapa orang karena
menjanjikan sebuah kesuksesan karir dan finansial bagi yang berhasil
menjalaninya. Di Indonesia, pembicaraan mengenai entrepreneurship
semakin sering terdengar dalam beberapa tahun terakhir ini antara lain
dipicu oleh suksesnya penjualan buku "Rich-Dad-Poor-Dad" karangan Robert
Kiyosaki yang secara eksplisit menyarankan kepada pembacanya untuk
beriwirausaha sebagai bagian untuk memperoleh kebebasan finansial.
Bahkan beberapa pemuda bertutur bahwa mereka ingin menjadi wirausaha
dengan mendirikan perusahaan dan memperoleh kebebasan finansial seperti
yang disarankan oleh Kiyosaki tanpa menghiraukan bidang apa yang akan
mereka terjuni dan hambatan apa saja yang akan mereka temui dalam
berwirausaha. Di samping itu, dunia Information Technology (IT) adalah
sebuah dunia usaha dan teknologi yang paling banyak menghasilkan
enterpreneur yang sukses baik secara bisnis maupun keuangan.
Nama-nama
seperti Hewlet-Packard, Bill Gates, Lerry Elison, Steve Jobs, dan
Michael Dell merupakan nama-nama pendiri perusahaan di bidang Teknologi
Informasi, dan merupakan entrepreneur murni karena mereka memulai usaha
yang baru sama sekali dan di usia yang cukup muda. Melihat kondisi inilah
maka tidak heran kalau banyak sekali enterpreneur yang ingin mendirikan
usaha dalam bidang IT, bahkan di era dot-com, hampir semua entrepreneur
berusaha mendirikan perusahaan dot-com. Seiring dengan berlalunya era
dot-com dan dengan jatuhnya banyak perusahaan dot-com, tetap tidak
mengurangi semangat para entrepreneur muda untuk mencoba peruntungan
mereka dalam dunia IT ini.
Dalam tulisan ini, penulis ingin menyoroti
prospek entrepreneurship di bidang IT di negara Indonesia berdasarkan
atas pengamatan dan pengalaman yang pernah dijalani penulis dalam
membangun dan menjalankan sebuah perusahaan strart-up di bidang IT.
Walaupun usaha yang dilakukan belum pantas untuk disebut sukses, tetapi
penulis ingin berbagi beberapa pengalaman yang pernah dialami yang
mungkin berguna bagi perkembangan jiwa dan semangat entrepreneurship di
Indonesia.Membangun usaha dalam bisnis IT
Dunia IT merupakan sebuah dunia
yang sangat menjanjikan bagi para entrepreneur muda karena sifatnya
yang sangat terbuka bagi siapa saja yang berminat memasukinya, bahkan
untuk menggambarkan betapa terbukanya bidang ini dinyatakan oleh
pernyataan seorang aktor dalam sebuah film fiksi tentang perusahaan IT
yang berjudul "Anti Trust" mengatakan bahwa "Every student who works on
their garage is potentianly become a competitor in this business".
Setiap mahasiswa yang bekerja dari sebuah garasi di rumahnya untuk
membuat perangkat lunak IT berpotensi untuk menjadi pesaing bagi
perusahaan yang telah beroperasi terlebih dahulu. Seperti juga sebuah
bisnis pada umumnya, jika gampang memasukinya maka gampang pula untuk
terlempar keluar dari persaingan, oleh sebab itu pemahaman dan pemilihan
dalam membangun sebuah bisnis, khususnya dalam bidang IT sangat
menentukan sukses tidaknya usaha tersebut dijalankan.Walaupun banyak
sekali bidang bisnis IT, tetapi pada umumnya bidang usaha yang sering
dimasuki oleh seorang pebisnis baru adalah:
- Perusahaan pengembangan
perangkat lunak aplikasi (software house). - Konsultan Implementasi
Teknologi Informasi baik itu implementasi hardware maupun implementasi
software.
- Distributor dari produk-produk IT, baik hardware ataupun
software.
- Training dan pendidikan bidang IT.Dari keempat bidang ini,
muncul berbagai varians dari bisnis IT yang biasanya merupakan bentuk
spesialisasi dari keempat bidang usaha tersebut. Untuk sukses dalam
bisnis dalam bidang ini faktor yang paling berpengaruh adalah ketepatan
memasuki pasar (time-to-market) dan juga kualitas sebuah produk atau
solusi yang dimiliki.
Terlambat memasuki pasar berarti akan kehilangan
kesempatan menjadi market leader, sedangkan terlalu awal masuk pasar
akan dibebani biaya besar untuk melakukan pendidikan pasar. Faktor yang
kedua yaitu kualitas dari produk atau solusi yang akan menjamin
kesinambungan perusahaan dalam bisnis ini. Kualitas yang jelek akan
menyebabkan hilangnya kepercayaan dari pelanggan, walaupun
time-to-market nya sudah tepat.